Jumat, 28 Juni 2013

Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stress, dan Gender



            Abnormalitas dapat didefinisikan sebagai suatu ketidaknormalan yang dilihat oleh seorang yang normal. Atau dalam kata lain, abnormalitas merupakan suatu keanehan yang terjadi di lingkungan orang-orang normal. Abnormalitas dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita melihat seseorang dengan gangguan jiwa. Mengapa kita menganggapnya sebagai suatu yang abnormal? Karena kita merasa diri kita tidak melakukan atau bertindak seperti yang mereka lakukan.
         Abnormalitas disebabkan oleh tiga dimensi, yaitu penyebab biologis, penyebab psikologis, dan penyebab sosiokultural. Berikut adalah penjelasannya:
Penyebab Biologis. Dalam usaha memahami penyebab perilaku abnormal, para ahli kesehatan mental dengan hati-hati mengevaluasi apa yang terjadi di tubuh seseorang yang dapat dihubungkan ke warisan genetis atau gangguan fungsi fisik. Sebagai komponen rutin dalam setiap evaluasi, Dr.Tobin melakukan penilaian sampai sejauh mana masalah yang kelihatannya disebabkan secara emosional dapat dijelaskan dalam kerangka determinan biologis. Memahami peran faktor biologis sebagai penyebab penting juga membuat Dr.Tobin mewaspadai fakta bahwa ia mungkin perlu menggabungkan komponen biologis seperti obat – obatan dalam intervensinya.
Sebagaimana terdapat pada banyak gangguan medis, berbagai gangguan psikologis terjadi di keluarga. Gangguan depresi mayor merupakan salah satu dari gangguan-gangguan ini. Seorang anak lelaki atau perempuan dari orang tua yang menderita depresi, secara statistik memiliki kemungkinan mengalami depresi yang lebih besar daripada mereka yang orangtuanya tidak menderita depresi.
Sebagai tambahan dalam menjelaskan peran faktor genetis, paran klinisi juga mempertimbangkan bahwa perilaku abnormal mungkin saja merupakan akibat dari gangguan fungsi fisik. Gangguan semacam itu dapat muncul dari berbagai sumber, seperti kondisi medis, kerusakan otak, atau paparan jenis stimulan tertentu di lingkungan. Banyak kondisi medis yang dapat menyebabkan seseorang merasa dan bertindak abnormal. Sebagai contoh, abnormalitas medis di kelenjar tiroid dapat menyebabkan rentang kondisi mood dan emosi yang beragam. Kerusakan otak yang diakibatkan oleh trauma kepala meskipun ringan, dapat mengakibatkan perilaku aneh dan perubahan emosi yang intens. Sama halnya dengan pencernaan zat-zat, baik obat terlarang maupun pengobatan yang diizinkan, dapat mengakibatkan perubahan emosi dan perilaku yang menyerupai gangguan psikologis. Bahkan, paparan stimulan lingkungan seperti zat beracun atau zat penyebab alergi dapat menyebabkan seseorang mengalami perubahan emosi dan perilaku yang mengganggu.
Penyebab Psikologis. Jika faktor biologis dapat memberikan semua jawaban, maka kita akan menganggap gangguan mental sebagai penyakit medis. Sesungguhnya, hal ini tidak hanya sekedar itu saja. Gangguan umumnya muncul sebagai akibat pengalaman hidup yang bermasalah. Mungkin sebuah peristiwa satu jam yang lalu, tahun lalu, atau saat ini dalam hidup seseorang telah meninggalkan bekas yang menyebabkan perubahan dramatis pada perasaan atau perilaku. Misalnya, komentar merendahkan dari seorang profesor dapat meninggalkan perasaan terluka pada seorang mahasiswa dan menyebabkan depresi selama berhari-hari. Kekecewaan dalam hubungan asmara dapat menimbulkan respons emosional yang intens selama berbulan-bulan. Sebuah trauma yang terjadi bertahun-tahun yang lalu dapat terus memperngaruhi pikiran, perilaku, dan bahkan mimpi seseorang. Pengalaman hidup juga berkontribusi terhadap gangguan dapat menyebabkan individu membentuk asosiasi negatif terhadap stimulus tertentu. Sebagai contoh, kekuatan irasional pada ruangan sempit mungkin muncul karena pernah terjebak di dalam elevator.
Oleh karena itu, dalam mengevaluasi penyebab psikologis pada abnormalitas, para ilmuwan sosial dan klinisi mempertimbangkan pengalaman hidup seseorang. Sebagian besar pengalaman tersebut bersifat interpersonal-kejadian-kejadian yang terjadi karena interaksi dengan orang lain. Namun, orang juga memiliki pengalaman intrapsikis, pengalaman yang terjadi di dalam pikiran dan perasaannya. Masalah-masalah emosional dapat muncul dari persepsi yang terdistorsi dan cara berpikir yang salah.
Penyebab Sosiokultural. Siapa diri kita sebagian besar ditentukan oleh interaksi interpersonal yang terjadi di lingkaran pusat kehidupan kita. Istilah sosiokultural mengacu pada berbagai lingkaran pengaruh sosial dalam hidup seseorang. Sebagian besar lingkaran tengah terdiri dari orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan kita di tingkat lokal. Bagi mahasiswa perguruan tinggi, orang-orang ini bisa jadi teman sekamar, rekan kerja, dan teman sekelas yang mereka temui secara teratur. Lingkaran yang lebih luar dari lingkaran tengah adalah mereka yang mendiami lingkaran hubungan yang lebih luas, seperti anggota keluarga di rumah atau teman-teman di sekolah menengah atas. Lingkaran ketiga terdiri dari orang-orang di lingkungan kita yang hanya berinteraksi dengan kita secara minimal dan kurang kita kenal namanya, mungkin penghuni komunitas kita atau kampus yang standarnya, harapannya, dan perilakunya mempengaruhi hidup kita. Lingkaran sosial keempat adalah budaya yang lebih luas, tempat kita hidup seperti masyarakat Amerika.
Abnormalitas, dapat pula disebabkan oleh kejadian-kejadian pada salah satu atau keseluruhan konteks sosial tersebut. Hubungan yang bermasalah dengan teman sekamar atau anggota keluarga dapat mengakibatkan seseorang merasa sangat tertekan. Hubungan asmara yang gagal dapat menyebabkan depresi yang memungkinkan tindakan bunuh diri. Keterlibatan dalam hubungan yang mengandung kekerasan dapat menyebabkan gaya interpersonal ketika orang yang mengalami kekerasan berulang kali terjerat hubungan dengan orang yang suka menyakiti dan merusak. Dibesarkan oleh orang tua yang sadis dapat pula menyebabkan seseorang membangun pola hubungan yang dicirikan dengan kontrol dan luka emosional. Huru-hara politik, bahkan pada level yang relatif lokal, dapat memunculkan emosi dari kecemasan yang mengganggu hingga ketakutan yang tak tertahankan. Bagi beberapa orang, penyebab abnormalitas lebih luas, mungkin bersifat kultural atau sosial. Misalnya, pengalaman diskriminasi memiliki pengaruh yang besar terhadap seseorang dari kelompok minoritas, baik menyangkut ras, budaya, orientasi seksual atau kecacatan.
Setelah pembahasan tentang abnormalitas itu sendiri, berikut ini akan dijelaskan hubungan abnormalitas dengan konsep motivasi, stress, dan gender.
Keterkaitan abnormalitas dengan konsep motivasi. Konsep motivasi merupakan konsep yang dimiliki setiap individu. Konsep motivasi ini berarti suatu konsep dalam diri yang berupa dorongan untuk melakukan suatu tindakan. Hubungan antara abnormalitas itu sendiri dengan konsep motivasi sebenarnya tergantung pada sudut pandang yang kita pilih untuk menjelaskannya. Abnormalitas seseorang bisa saja mempengaruhi konsep motivasinya. Seorang yang abnormal berarti memiliki suatu kelainan di mata masyarakat umum. Kelainan ini membuat dirinya tidak dapat berfungsi secara optimal atau dikatakan “tidak sehat”. Seseorang yang tidak sehat tentu saja tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungan atau tuntutan hidup, misalnya memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan atas penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri seperti yang diungkapkan dalam hirarki kebutuhan Maslow. Sedangkan kelima kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan motivasi individu dalam kehidupan. Maka, seorang yang abnormal  dapat dikatakan memiliki konsep motivasi yang menyimpang dari apa yang dialami oleh seorang yang normal. Bahkan bisa saja konsep motivasi dirinya tidak lagi berkiblat pada hal-hal yang positif, dan malah menjurus pada hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.
Keterkaitan abnormalitas dengan stress. Seseorang yang mengalami abnormalitas dapat disebabkan oleh stress, dan sebaliknya stress dapat disebabkan oleh abnormalitas. Hal ini berkaitan dengan penyebab sosiokultural. Seseorang bisa saja mengalami abnormalitas, seperti trauma atau depresi karena sebelumnya mengalami stress yang berkepanjangan. Saat dia mengalami tekanan dalam dirinya atau dihadapkan pada suatu tekanan dari lingkungan sosialnya dan tidak bisa menghadapi atau mengontrol dirinya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya abnormalitas seperti depresi atau skizofrenia. Sebaliknya, seseorang yang memang abnormal yang membuatnya tidak diterima di lingkungannya atau disisihkan menyebabkan ia mengalami stress dan pada akhirnya mungkin saja menambah dan memperparah abnormalitas orang tersebut.
Keterkaitan abnormalitas dengan gender. Banyak sekali kasus-kasus abnormalitas yang kita temui atau kita ketahui. Faktanya, kasus abnormalitas tersebut banyak terjadi pada kaum pria. Misalnya saja ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), menurut penelitian Breton yang dilakukan pada 1999, ADHD lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan, dengan estimasi 2-4% untuk anak perempuan dan 6-9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun. Selanjutnya Asperger Syndrome yang merupakan gejala autisme, Berdasarkan perkiraan yang dikutip situs webmd.com, sindrom ini dialami oleh 0,024 hingga 0,36 persen dari anak-anak. Gangguan ini lebih umum dialami laki-laki dibandingkan perempuan dan biasanya terdiagnosis saat anak berusia antara dua dan enam tahun. Berdasarkan fakta-fakta tersebut umumnya laki-laki lebih banyak mengalami abnormalitas dibanding wanita. Hal ini dapat dijelaskan secara biologis, dimana terdapat perbedaan kromosom dan susunan genetik antara laki-laki dan perempuan yang memungkinkan laki-laki lebih banyak mewarisi abnormalitas secara genetik dibandingkan dengan perempuan. Selain itu kasus lain adalah mengenai bunuh diri yang banyak terjadi, tidak hanya di negara berkembang namun juga di negara-negara maju seperti Amerika. Faktanya lebih banyak pria mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dibandingkan dengan wanita. Jika dijelaskan dengan pendekatan sosiokultural, tuntutan lingkungan/masyarakat terhadap seorang pria jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hal ini mengakibatkan banyak pria merasa gagal untuk memenuhi tuntutan tersebut dan mengalami depresi yang berujung pada bunuh diri.

Sumber:
Halgin, R.P & Whitbourne, S.K. 2010. Psikologi Abnormal Volume 1 Edisi 6. Jakarta:Salemba Humanika.

Minggu, 12 Mei 2013

Kepribadian Sehat Menurut Rogers



Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Menurutnya, orang yang sehat adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi dapat memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan.
Perkembangan Diri (Self)
            Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari hal-hal lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).
            Sebagai bagian dari self concept, anak itu juga menggambarkan  dia akan menjadi siapa atau mungkin ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran diri yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncullah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosional.
            Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagai penghargaan positif (positive regard).
Positive Regard
yaitu suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, yang dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
Self Concept
self concept yang berkembang pada anak sangat dipengaruhi oleh ibu, bagaimana anak mendapatkan kasih sayang atau tidak dari seorang ibu.
Conditional Positive Regard
kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik.
Unconditional Positive Regard
syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku.
Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses. Aktualisasi diri merupakan keberanian untuk ada. Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Berikut adalah 5 sifat orang yang berfungsi sepenuhnya:
1.      Keterbukaan pada Pengalaman
Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi dapat menggunakannya dalam membuka esempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya kepribadian defensif beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, tersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional karena mereka mengalami banyak emosi baik yang positif maupun negatif.
2.      Kehidupan Eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia terbuka pada setiap pengalaman. Pengalaman selalu dirasa segar dan baru. Ia tidak akan beprasangka dan mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa yang dialaminya sehingga mereka dapat dengan bebas berpartisipasi di dalamnya. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/kepribadian yang sehat.
3.      Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang sehat akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada, informasi dapat berisi kebutuhan-kebutuhan, tuntutan-tuntutan sosial, ingatan-ingatan pada situasi yang serupa pada masa sekarang. Individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap hal, dari suatu situasi dengan. Faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4.      Persaaan Bebas
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku keadaan atau peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut sesuai kehendaknya.
5.      Kreativitas
Rogers percaya bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi lingkungan, mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk mengulangi perubahan-perubahan traumatis.

Sumber:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Minggu, 14 April 2013

Konsep Manusia



            Manusia merupakan kajian utama dalam bidang psikologi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia, dikaji secara mendalam oleh ilmu psikologi. Adapun beberapa pandangan atau aliran dalam psikologi yang memiliki konsep berbeda tentang manusia, di antaranya:
1.      Pandangan Behaviorisme
Salah satu yang menganut aliran behaviorisme adalah John B. Watson. Menurut Watson, perilaku manusia adalah sesuatu yang dapat diprediksi dan dikontrol. Eksperimen Watson yang paling terkenal adalah eksperimen dengan anak bernama Albert, yang berusia 11 bulan. Watson dan Rosali Rayner, istrinya, mengadakan eksperimen kepada Albert dengan menggunakan tikus putih dan gong, serta pemukulnya. Pada permulaan eksperimen, Albert tidak takut pada tikus putih. Pada kesempatan lain, saat Albert akan memegang tikus putih, gong dibunyikan dengan keras. Dengan suara keras tersebut, Albert merasa takut. Keadaan tersebut diulang beberapa kali, hingga akhirnya terbentuklah pada diri Albert rasa takut terhadap tikus putih. Berdasarkan eksperimen tersebut, Watson berpendapat bahwa reaksi emosional manusia dapat dibentuk dengan conditioning. Rasa takut tersebut dapat dihilangkan lagi dengan cara menghadirkan tikus putih tersebut secara bertahap dalam situasi yang menyenangkan, misalnya saat menonton TV. Jadi, konsep manusia menurut teori behaviorisme yaitu, perilaku manusia adalah sesuatu yang dapat dibentuk melalui pembiasaan atau pengondisian tertentu, sehingga akhirnya menjadi perilaku yang menetap. Namun perilaku tersebut dapat diubah lagi seperti saat sebelum diberi pengondisian, menggunakan pengondisian yang bertolak belakang dengan pengondisian awal. Sehingga, perilaku tersebut sudah bisa diprediksi, akan kembali seperti semula saat belum diberi pengondisian apapun.
2.      Pandangan Psikoanalisa
Sigmund Freud adalah seorang pendiri aliran psikoanalisa. Aliran ini mengungkapkan konsep manusia berdasarkan tahapan-tahapan seksualitas dan ketidaksadaran pikiran. Menurut Freud, manusia pada umumnya sejak dilahirkan akan mengalami tahapan-tahapan seksualitas, yaitu:
a.      Fase oral (0-2 tahun). Pada fase ini, kepuasan seksual berada di sekitar mulut.
b.      Fase anal (2-5 tahun). Pada fase ini, daerah kepuasan berpindah pada anus.
c.       Fase phalic (6-7 tahun). Pada fase ini kepuasan seksual berada pada alat kelamin.
d.      Fase latent (7-8 tahun). Pada fase ini kepuasan seksual tersembunyi/tidak nampak.
e.      Fase genital (dimulai sejak remaja). Segala kepuasan seks terutama berpusat di alat kelamin. Namun berbeda dengan fase phalic, pada fase ini orientasinya ke arah reproduksi atau menghasilkan keturunan.
Selanjutnya mengenai konsep ketidaksadaran pikiran, dihubungkan dengan sumber perilaku manusia. Menurut Freud, pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Pandangan Freud secara lengkap yaitu:
a.      Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sigmund Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari kesadaran (the conscious) dan ketidaksadaran (the unconscious). Kesadaran diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang nampak. Sedangkan ketidaksadaran merupakan bagian kecil dari gunung es di bawah permukaan air yang mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Menurut Freud ada bagian lain yang disebut prasadar (preconscious). Dalam preconscious stimulus-stimulus belum direpres sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kesadaran. Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Id merupakan prinsip kenikmatan, Ego merupaka prinsip realitas, sedangkan Superego merupakan konsep moral.
b.      Insting dan Kecemasan
Insting manusia terdiri dari insting hidup (lapar, haus, dan seks) dan insting mati (merupakan kekuatan destruktif/merusak diri). Menurut Freud, ada tiga macam kecemasan, yaitu: kecemasan objektif (timbul dari ketakutan terhadap bahaya nyata), kecemasan neurotik (kecemasan akan mendapatkan hukuman atau keinginan yang impulsif), dan kecemasan moral (kecemasan melanggar norma-norma moral). Konsep penting lainnya yang diungkapkan Freud adalah mengenai mekanisme pertahanan diri, yang bertujuan untuk melindungi superego dan ego dari dorongan-dorongan primitif yang tidak dapat dibenarkan oleh superego dan ego. Mekanisme yang diungkapkannya adalah: represi, pembentukan reaksi, proyeksi, displacement, rasionalisasi, supresi, sublimasi, kompensasi, dan regresi. Kesembilan mekanisme ini berkaitan dengan pemahaman terhadap perilaku manusia.
            Jadi, aliran psikoanalisa ini memberikan konsep tentang manusia bahwa manusia secara umum akan mengalami tahapan-tahapan psikoseksual pada usia tertentu. Lalu perilaku manusia merupakan sesuatu yang berasal dari alam bawah sadarnya, berkaitan dengan insting hidup dan insting mati. Selain itu, perilaku manusia juga merupakan hal yang dapat dijelaskan dengan konsep mekanisme pertahanan diri. Manusia berperilaku sebagai dampak dari mekanisme pertahanan diri yang diciptakannya secara tidak sadar.
3.      Pandangan Humanistik
Abraham Maslow dikenal sebagai bapak psikologi humanistik. Menurutnya, manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh niali-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri, bukan oleh kekuatan ketidaksadaran. Menurut Maslow, manusia memiliki lima kebutuhan yang berhirarki, meliputi:
a.      Kebutuhan fisiologis.
b.      Kebutuhan rasa aman.
c.       Kebutuhan rasa cinta dan memiliki.
d.      Kebutuhan akan penghargaan.
e.      Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan tersebut di atas dikatakan berhirarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut dipenuhi apabila kebutuhan yang lebih rendah sudah terpenuhi.
Jadi konsep manusia menurut aliran ini adalah manusia merupakan makhluk yang dikendalikan oleh nilai dan pilihannya sendiri. Dalam hal ini, 5 hirarki kebutuhan termasuk salah satu pengendali manusia. Setelah memenuhi kebutuhan di tingkat terendah, manusia harus berusaha memenuhi kebutuhan di tingkat atasnya agar dapat dinyatakan sebagai pribadi yang sehat dan ideal.


Sumber:
Basuki, Heru A.M. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:Gunadarma