Rabu, 06 Maret 2013

Definisi Sehat



Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan, berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan, serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik.
Selama beberapa dekade, definisi sehat masih dipertentangkan dan belum ada kata sepakat dan para ahli kesehatan maupun tokoh masyarakat dunia. Akhirnya World Health Organization (WHO) membuat definisi universal yang menyatakan bahwa, “Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity”. Artinya sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.
Menurut WHO ada empat komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam definisi sehat, yaitu:

1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.

2. Sehat Mental
Sehat Mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (Mens Sana In Corpore Sano)”.
Atribut seorang insan yang memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:
a)   Selalu merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, tidak pernah menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu gembira, santai dan menyenangkan, serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.
b) Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik, serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan emosi orang lain.
c) Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi, serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana.

3. Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kebudayaan dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.

4. Sehat Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.
Keempat komponen ini dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik semata-mata.
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1.Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2.Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3.Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

Berikut ini akan dikemukakan definisi sehat menurut beberapa ahli:
a.      Pepkins, mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan selalu harus dipertahankan.

b.      Paune (1983), mengatakan sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care resources) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care resources : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.

c.     Pender (1982), sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.

d.      Konsep sehat, yang dikemukakan oleh Linda Ewles & Ina Simmet (1992), yang dikutip oleh A.E. Dumatubun dalam Jurnal Antropologi Papua 2002, seperti berikut:
1.  Konsep sehat dilihat dari segi jasmani, yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanisme tubuh.
2.  Konsep sehat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat di antara ketiganya.
3.  Konsep sehat dilihat dari segi emosional, yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara cepat.
4.  Sehat dilihat dari segi sosial, berarti kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
5.  Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual, yaitu berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaan, berkaitan dengan perbuatan baik secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian.
6. Konsep sehat dilihat dari segi societal, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat  dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar  dan emosional. (Djekky,2001: 8)

e.      Larry Green & para koleganya, menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. 

f.   Menurut UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. 

g.   Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional Ulama tahun 1983, merumuskan kesehatan sebagai ketahanan ‘jasmaniah, ruhaniyah, dan sosial’ yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, dan memelihara serta mengembangkannya.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami keseimbangan atau kondisi stabil dilihat dari segi fisik, mental, spiritual, sosial, maupun emosional yang terbebas dari ‘sakit’. Sehat dikatakan sebagai suatu kesatuan yang mencakup beberapa aspek, sebab aspek-aspek yang telah disebutkan di atas terdapat dalam diri individu dan saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika salah satu aspek di atas mengalami ‘sakit’, hal ini dapat mempengaruhi kesehatan aspek lainnya sehingga individu yang mengalaminya dapat dinyatakan tidak sehat secara keseluruhan. Misalnya ketika seseorang mengalami sebuah stress yang luar biasa (sakit secara psikis/mental), bisa menyebabkan kondisi fisiknya drop seperti mengalami demam, pusing, dll. Hal ini juga berlaku untuk aspek-aspek lainnya jika terkena kondisi yang tidak stabil atau ‘sakit’. Untuk itu kita perlu menjaga kestabilan fisik, mental, spiritual, sosial, maupun emosional agar kita bisa mencapai suatu tingkatan dimana kita dinyatakan ‘sehat’. 



Sumber: 


Sabtu, 10 November 2012

Tes Psikologi Melalui Internet

Teknologi semakin hari semakin berkembang dan semakin canggih. Sekarang semua informasi bisa didapatkan dengan mudah melalui internet. Kita tidak perlu lagi bersusah payah mencari informasi, karena hanya dengan terhubung pada internet, semua informasi baik dari dalam maupun luar negeri bisa kita peroleh dengan mudah. Hal ini berlaku juga pada semua bidang dan aspek kehidupan, baik bidang keagamaan, hukum, pengetahuan, dan lain-lain. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai psikologi, khususnya tes psikologi melalui internet.

Psikologi merupakan suatu kajian ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan berbagai macam faktor yang mempengaruhi perilaku itu sendiri. Dulu, dunia psikologi hanya terbatas bagi orang-orang yang mempelajarinya. Namun seiring berjalannya waktu, sedikit banyak orang awam pun memahami ilmu psikologi dan elemen-elemen yang dipelajari dalam psikologi. Ini berkat kemajuan teknologi (internet) yang memuat segala sesuatu tentang psikologi termasuk tes-tes psikologi. Kini kita bisa dengan mudah mengetahui tingkat intelegensi (IQ), kepribadian, dan sebagainya melalui tes psikologi yang tersedia di internet. Tes yang tersedia di internet ini, memang memudahkan kita untuk mengetahui IQ dan sebagainya, namun ada kekurangan dan kelebihan yang dihasilkan dari tes psikologi melalui internet. Kelebihannya diantaranya: efektif dalam segi waktu, mudah didapat dan dilakukan dimana saja. Efektif dalam segi waktu, maksudnya kita dapat mengakses tes psikologi dengan cepat kemudian mengerjakan tesnya, dan mendapatkan hasil dalam waktu yang cepat. Tidak seperti tes psikologi yang diadakan di suatu lembaga/institusi, dimana kita harus menunggu hasil tes selama beberapa hari. Mudah didapat dan dilakukan dimana saja, maksudnya dengan mengakses tes psikologi melalui internet, kita dapat mengaksesnya dengan mudah dan dapat dilakukan dimana saja tanpa terikat oleh tempat tertentu. Kekurangannya diantaranya: hasil yang didapat belum tentu akurat dan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Hasil belum tentu akurat, maksudnya dengan tes psikologi melalui internet bisa terjadi kekacauan sistem (error) sehingga hasilnya tidak akurat. Tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, maksudnya ketika seseorang melakukan tes psikologi melalui internet, agar mendapatkan hasil yang bagus atau sesuai dengan keinginan bisa saja orang tersebut bertanya atau searching jawaban dari tes tersebut sehingga pada akhirnya hasil yang didapat tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.

Beredarnya tes psikologi melalui internet juga sejalan dengan peredaran kunci jawaban dari tes tersebut. Semakin banyak jenis tesnya maka semakin banyak pula kunci jawaban yang beredar. Hal ini merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan dari internet. Idealnya, kunci dari tes psikologi hanya dimiliki oleh orang-orang yang berhak dan expert di dunia psikologi. Namun, "berkat" internet kini kunci jawaban tes psikologi menjadi sesuatu yang tidak bersifat rahasia lagi. Di toko-toko buku banyak pula dijual panduan tes psikologi beserta kunci jawabannya. Pada akhirnya yang terjadi saat ini adalah tes psikologi bukan lagi menjadi ukuran yang pasti dalam mengetahui tingkat intelegensi atau kepribadian seseorang, sebab banyak terjadi "manipulasi" untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan.

Mungkin ke depannya, diharapkan para psikolog dan orang-orang yang menggeluti bidang psikologi untuk dapat selalu menciptakan variant tes psikologi yang baru untuk menjaga kerahasiaan dan keakuratan dari tes psikologi. Perkembangan tes psikologi diharapkan sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin lama kian canggih dan selalu berkembang.

Selasa, 23 Oktober 2012

Kecanduan Internet




       Perkembangan teknologi khususnya internet bagaikan dua sisi mata uang. Internet merupakan suatu keuntungan dan kerugian. Dilihat dari segi fungsi dan kegunaan, internet merupakan suatu fasilitas yang dapat memudahkan siapapun dan dimanapun untuk mencari atau bertukar informasi. Namun, di sisi lain internet juga merupakan “perusak”. Entah itu perusak moral maupun perusak otak manusia. Bisa dikatakan demikian, sebab internet dapat menjadi ‘candu’ bagi siapapun. Adiksi atau kecanduan merupakan kondisi terikat pada kebiasaan yang sangat kuat dan tak mampu lepas dari keadaan itu. Seseorang yang kecanduan merasa terhukum apabila tak memenuhi hasrat kebiasaannya. Kecanduan internet diantaranya terjerat games, akses situs porno, akses bermacam informasi, serta aplikasi lain. Pencandu tidak dapat mengontrol diri sehingga mengabaikan kegiatan lainnya. Umumnya, pencandu asyik sehingga lupa waktu, sekolah, pekerjaan, lingkungan sekitarnya, hingga kewajiban lain. Hal tersebut dapat terjadi karena pecandu mendapatkan kesenangan, kenyamanan, dan keasyikan dari menggunakan fasilitas internet. Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika, kecanduan internet tampak dari adanya tiga gejala atau lebih yang terjadi dalam periode 12 bulan:
1.  Tingkat toleransi meningkat, sementara tingkat kepuasan berkurang. Dari waktu ke waktu, Anda membutuhkan lebih banyak waktu berselancar di internet untuk mendapatkan kepuasan yang sama.
2.  Kehilangan Interaksi Sosial. Anda cenderung menarik diri selama beberapa hari dalam sebulan saat mengurangi waktu berselancar dalam jaringan. Gejala ini kemudian membahayakan atau merusak kemampuan Anda untuk berinteraksi sosial.
3.  Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah adalah menggunakan internet.
4.  Menggunakan internet lebih sering dan lebih lama, daripada yang Anda inginkan.
5. Menghabiskan sebagian besar waktu malam hari dengan kegiatan yang berhubungan dengan internet.
6. Berhenti melakukan interaksi sosial dengan orang sekitar, pekerjaan atau kegiatan rekreasi dan menggantinya secara online.
7.  Beresiko kehilangan hubungan penting, pekerjaan, kesempatan pendidikan atau karir karena penggunaan internet yang berlebihan.
Kecanduan internet dapat berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa seseorang yang kecanduan internet akan menjauh dari interaksi sosial dalam kehidupan nyata. Hal ini disebabkan karena seseorang yang kecanduan internet merasa sangat nyaman hidup di dunia maya. Di dunia maya, siapapun bisa melakukan apa saja tanpa harus takut akan ada teguran atau cibiran dari orang lain. Seseorang yang hidup di dunia maya dapat menjadi orang lain atau tidak menjadi dirinya sendiri untuk mendapatkan kesenangan. Seseorang yang ‘hidup’ di dunia maya bisa saja mengalami kemunduran. Maksudnya, dengan seringnya berinteraksi di dunia maya, seseorang bisa menjadi tidak percaya diri ketika berinteraksi di lingkungan sosial dalam dunia nyata. Selain itu, kecanduan internet juga dapat menyebabkan hilangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Kebanyakan kasus kecanduan internet terjadi pada anak-anak, khususnya yang masih labil. Kasus ini biasanya terjadi pada anak-anak yang kurang memiliki perhatian keluarganya, sehingga mencurahkan segala masalah dan kehidupannya di dunia maya. Menurut para psikiater anak, kecanduan itu dapat dicegah jika orangtua dan orang dewasa berperan aktif. ”Berikan pemahaman untung ruginya atau konsekuensi sesuai umur masing-masing. Internet terbukti sangat bermanfaat selama masih bisa kita kontrol,” kata psikiater Richard Budiman SpKJ, pengelola Sanatorium Dharmawangsa, tempat puluhan psikiater praktik. Orang tua dan anak-anaknya pun bisa membuat kesepakatan bersama mengenai waktu dan lama mengakses internet. Situs dan jenis permainan yang diakses pun patut diketahui orangtua. Pembiaran hanya akan membuat kecanduan menjadi soal waktu. Sebagian besar peserta sepakat bahwa melarang anak sama sekali mengakses internet bukan solusi. Pasalnya, internet mudah diakses di mana-mana dengan tarif terjangkau. Pengobatan bagi yang kecanduan, kata Elijati, di antaranya psikoterapi, obat antipsikotik, antidepresi, dan terapi keluarga. Akar masalah yang memicu anak lari ke internet pun harus diketahui. ”Pengobatannya tidak mudah karena harus melibatkan banyak hal,” kata Elijati, yang disetujui psikiater lainnya.


Sumber :
http://diskominfo.tarakankota.go.id/artikel.php?op=detil&mid=3