Rabu, 21 Maret 2012

Sekilas Tentang Pluto


PLUTO adalah sebuah planet kerdil dalam sistem Tata  Surya Bimasakti. Dikatakan kerdil, karena planet ini merupakan planet terkecil di antara 8 planet lainnya yakni : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Di antara obyek-obyek yang ada dalam Tata Surya, Pluto adalah yang terkecil baik dalam ukuran maupun jumlah masa. Pluto berdiameter  4.862 km dan memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto mirip dengan Bulan dan atmosfernya mengandung metan, yaitu gas yang lebih ringan dari udara, tak berwarna, tak berbau, dan tak beracun namun keberadaannya dapat menimbulkan ledakan. Suhu permukaan Pluto berkisar  -233o Celsius sampai dengan -223o Celsius, sehingga sebagian besar permukaannya berwujud es. Sama dengan planet-planet lainnya, Pluto juga mempunyai beberapa bulan/satelit yang mengelilinginya, yaitu: Charon (ditemukan oleh astronom James Christy pada tahun 1978), Nix dan Hydra (keduanya ditemukan pada tahun 2005). Pluto terletak dalam sebuah wilayah terluar dari Tata Surya yang bernama Sabuk Kuiper.  Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari. Pluto memiliki orbit yang unik saat mengelilingi matahari, orbitnya berbentuk lonjong dan kisaran jaraknya sekitar 4,4 - 7,4 miliar km dari Matahari. Berbeda dengan planet-planet lainnya di Tata Surya, Pluto cenderung bergerak mendekati Matahari saat melakukan perjalanan orbit. Akibatnya, terkadang Pluto berjarak lebih dekat dengan Matahari daripada planet Neptunus.
Penemuan Pluto sebenarnya diawali dengan kekeliruan sejumlah astronom yang menemukan adanya kekacauan dalam orbit Uranus. Awalnya para astronom berasumsi bahwa yang menjadi penyebab kekacauan  tersebut adalah tarikan gravitasi dari Neptunus. Namun, di akhir abad ke-19, setelah dilakukan observasi lanjutan, para astronom berasumsi bahwa ada planet lain selain Neptunus yang menjadi penyebab kekacauan orbit Uranus. Pada tahun 1905 seorang astronom AS, Percival Lowell, memulai proyek pencarian planet ke-sembilan dalam sistem Tata Surya. Lowell bersama rekannya, William H. Pickering, mengajukan beberapa konsep koordinat planet ke-sembilan dalam Tata Surya yang mereka namakan “Planet X”. Lowell meninggal pada tahun 1916, akan tetapi proyek pencariannya tetap dilanjutkan. Nama Lowell diabadikan sebagai nama observatorium yang didirikannya pada tahun 1894. Pada bulan Januari 1930, Clyde Tombaugh, seorang peneliti yang juga anggota tim proyek pencarian planet ke-sembilan dalam Tata Surya di Observatorium Lowell, berhasil mendeskripsikan beberapa pergerakan dari sebuah objek misterius di luar angkasa. Tim peneliti dalam proyek tersebut menyimpulkan bahwa objek tersebut adalah sebuah planet dan untuk memastikannya mereka kemudian mengirim hasil pencitraan objek luar angkasa itu ke Observatorium Harvard College untuk diteliti lebih lanjut. Setelah dipastikan bahwa objek yang ditemukan itu adalah sebuah planet, Tombaugh dan ketua tim peneliti, Vesto Melvin Slipher, menggelar sayembara untuk mencarikan nama bagi planet ke-sembilan itu. Nama Pluto awalnya dicetuskan oleh Venetia Burney, seorang anak perempuan umur sebelas tahun asal Oxford, Inggris. Venetia yang gemar mempelajari mitologi Yunani Kuno dan astronomi pertama kali mengusulkan nama ini pada kakeknya, Falconer Madan, mantan pustakawan di Universitas Oxford, Inggris. Madan kemudian meneruskan usul cucunya ini pada Profesor Herbert Hall Turner yang kemudian meneruskannya lagi pada rekan-rekannya di Amerika. Setelah diseleksi dari sekian banyak nama, pada 24 Maret 1930, tim peneliti di Observatorium Lowell berdiskusi untuk menentukan 1 dari 3 nama yang telah dipilih, yaitu: “Minerva”, “Cronus”, dan “Pluto”. Akhirnya, pada 1 Mei 1930, tim memutuskan nama planet baru itu adalah “Pluto”.
Sampai saat ini Pluto menjadi tujuan eksplorasi negara-negara adikuasa, karena dianggap suatu tantangan besar. Selain karena jarak Pluto sangat jauh dari bumi, massa planet Pluto sangat kecil dan suhunya sangat dingin. Namun, belum ada upaya yang serius dalam melakukan perjalanan ke Pluto. Pada tahun 2000, NASA membatalkan eksplorasi ke Pluto karena alasan biaya. Kemudian pada tahun 2003, misi tersebut dicanangkan kembali oleh pemerintah AS dengan menggunakan pesawat yang dinamakan “New Horizons”. Pesawat ini sukses diluncurkan pada 19 Januari 2006, dengan dilengkapi sejumlah peralatan kendali jarak jauh untuk mengenali citra geologi dan morfologi Pluto bersama satelitnya, Charon, memetakan komposisi permukaannya, dan menganalisa atmosfirnya. Selain itu juga New Horizons akan memotret permukaan Pluto dan Charon.
Sayangnya, New Horizons diperkirakan baru akan mendekati orbit Pluto nanti pada tahun 2015. Setelah itu, barulah para ilmuwan NASA bisa mengungkap lebih jauh tentang misteri planet ‘mungil’ ini.
Sejak tahun 2006 Pluto tidak lagi termasuk dalam planet inti Tata Surya karena sejak ditemukannya planet tersebut, ditemukan juga sejumlah objek lain yang menyerupai Pluto. Akhirnya Pluto kini hanya dikategorikan sebagai planet minor/kerdil.


Sumber referensi :
www.asal-usul.com/2009/02/tentang-pluto.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar